Zillah Bethell: The Shark Caller (2022)

“Aku ingin bisa memanggil Hiu. Kumohon ajari aku mantranya dan tunjukkan caranya!”

Di tengah keputusasaannya menjadi pemanggil hiu untuk membalaskan kematian orangtuanya, Blue Wing terpaksa berteman dengan pendatang baru yang amat menjengkelkan, Maple Hamelin. Awalnya mereka bak air dan minyak, susah sekali akrab. Namun ketika air pasang mengembuskan kasak-kusuk adanya harta karun, mereka pun mencoba menaklukan perbedaan dan menantang hiu paling mematikan di lautan.

Keduanya berkelana di antara deburan ombak, menjalin persahabatan, memupuk keberanian, dan menguatkan hati untuk memaafkan. Semuanya terjadi di tepi pantai indah Papua Nugini.

***

 Judul                : Sang Pemanggil Hiu

Judul Asli         : The Shark Caller (2020)

Penulis             : Zillah Bethell

Penerjemah    : Endang Sulistyowati

Penerbit          : Penerbit Bhuana Sastra, 2022

Cetakan ke      : 4, Agustus 2023

Jml halaman   : 317

Rating usia      : 15+

Pertama kali baca karya Zillah Bethell justru buku keduanya, The Song Walker. Cukup menarik sampai ketagihan dan melengkapi karyanya dengan buku pertama ini, The Shark Caller. Dua karya ini punya sampul yang sangat menarik, energik dan menggemaskan karena mungkin target pembacanya remaja 15 tahunan. Tapi saya juga tertarik, banget, hehehe.

Siringen (Pemanggil Hiu)

Cerita dibuka dengan perkenalan Blue Wing, si anak perempuan yatim piatu ngotot minta diajari waspapi (bisa dibilang orang tua yang ditunjuk jadi wali) untuk diajari menjadi pemanggil hiu. Dan waspapi menolaknya. Blue Wing tinggal di desa dekat pantai di Papua Nugini, di desanya masih mempertahankan beberapa tradisi meskipun tujuannya sudah berbeda dari awalnya. Seperti Siringen sang Pemanggil Hiu, awalnya bertugas merapalkan mantra untuk memanggil hiu dan memburunya untuk memberi makan satu desa. Namun, kepala adat sekarang ingin memanfaatkan kemampuan Siringen untuk membantu turis berburu hiu. Tentu saja Siringen menolak.

Petualangan dimulai saat kedatangan Keluarga Hamelin, seorang ayah dan anaknya. Atlas Hamelin dan Maple Hamelin yang datang dari Amerika. Maple harus mengikuti ayahnya untuk meneliti terumbu karang meskipun tidak ingin meninggalkan rumah mereka setelah kematian ibunya karena tumor otak.

Perburuan harta karun menuju harta karun yang sesungguhnya

Bersatunya Maple dan Blue Wing adalah dari rumor bahwa ayahnya sedang dalam proyek pencarian harta karun, bukanlah sedang meneliti mengenai terumbu karang. Mereka kerjasama untuk mencari kebenaran, yah meskipun deg-degan saat mereka menggeledah kamar ayah Maple.

Ternyata harta karun yang dimaksud ayah Maple adalah sebuah buku yang menyimpan keajaiban tentang waktu. Harta karun itu dimiliki keluarga Maple sejak perang, namun hilang setelah pesawat kakek kakek buyutnya jatuh dan tenggelam di laut dekat desa Blue Wing.

Mereka memang pada akhirnya menuju titik pesawat itu jatuh. Harta karun itu juga akhirnya ditemukan.Sebuah buku ajaib yang memberi tahu bagaimana cara mengembalikan masa lalu. Berharap bahwa waktu benar-benar bisa terurai dan keluarga kecil Maple bisa kembali berkumpul. Obsesi ayahnya selama ini adalah mengembalikan ibu Maple dan bahagia bersama. Tapi nyatanya, buku itu memang ada dan saat diangkat dari dasar lautan, ia memudar bagai debu-debu dalam ayunan gelombang laut.

Memang harta karun itu hilang di bawah laut. Tapi ayah Maple menemukan harta karun yang sesungguhnya di permukaan laut. Dia menyadari bahwa Maple masih ada bersamanya, bahkan saat dia terobsesi mengembalikan isterinya yang sudah mati. Harta karun itu adalah keluarga yang kembali bersatu meskipun sama-sama kehilangan. 

Plot twist jedaaaar!


Okee, plot twist di akhir buku cukup mengguncang. Menangislah saya. Tentu saja cerita di buku ini tidak semata seperti judulnya. Buku ini bukan menjabarkan tips dan trik untuk memanggil hiu. Buku ini lebih banyak bercerita tentang kehilangan, luka batin, penyangkalan dan dendam yang ternyata hanya akan terobati dengan melepaskan.

Bagi keluarga Hamelin, waktu ternyata tidak mengobati kehilangan. Menghidupkan orang mati juga tidak mengobati. Hargai yang masih hidup dan kenang dengan baik yang sudah mati. Sama seperi ayah Maple yang berusaha mencari harta karun sampai ke kedalaman laut untuk menghidupkan istrinya. Ternyata obat dari luka kehilangan itu adalah dengan menyadari dia masih punya putrinya, yang masih hidup dan perlu lebih banyak perhatian darinya.

Bagi Blue Wing dan Xok, dendam itu tidak harus berakhir dengan saling membunuh. Justru menerima dan memaafkan akan lebih melegakan. Ayah ibu Blue Wing meninggal diserang Xok, dendamnya tentu saja membuncah. Beberapa kali Blue Wing dapat kesempatan untuk membalas Xok tapi terus saja gagal. Siringen sendiri melarang Blue Wing untuk membunuh Xok, menurutnya hiu itu tidak jahat. Xok hanya rusak karena perlakuan manusia padanya.

Satu kalimat yang menggambarkan The Shark Caller datang dari Chimera, begini bunyinya: anak kecil, orang yang diberi anugerah, orang yang merasa bersalah.

Ada apa dengan ketiga orang itu? Baca sajalah dan temukan keajaiban dunia The Shark Caller.

 

Desember, 2025

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.