Minato Kanae: Confessions (2019)
Semua Bergantung pada Susu yang Dikonsumsi Sejak Dini
*
Judul :
Confessions
Judul Asli :
Kokuhaku (2007)
Penulis :
Minato Kanae
Penerjemah : Clara
Canceriana, Andry Setiawan
Penerbit : Penerbit
Haru, 2019
Cetakan ke : XII,
Maret 2023
Jml halaman : 302
Blurb
Moriguchi Yuko adalah seorang guru
SMP. Saat anaknya yang berusia 4 tahun ditemukan meninggal, semua orang mengira
itu cuma kecelakaan nahas. Akan tetapi, Moriguchi yakin anaknya dibunuh oleh
dua dari anak didiknya. Karena itu, dia tidak akan membiarkan kedua anak itu
bebas. Dia ingin membalas dendam, dan balas dendam yang dia lakukan itu
hanyalah awal dari sebuah mimpi buruk…
*
Sebenarnya cukup terlambat untuk
menemukan permata yang satu ini. Sampulnya cakep pol sampai akhirnya saya
berminat kenalan dengan karya Minato Kanae-sensei ini. Sudah nongkrong di rak
buku toko sejak 2019, dan di akhir 2025 baru sampai di tangan. Setelah dua
belas cetakan kemudian, hehehehe. Langsung sebuah permata. Ini termasuk salah
satu novel yang habis dalam waktu singkat, tidak sampai satu minggu selesai.
Dan rasanya luar biasa, ada kehampaan, tapi kepuasan sekaligus saat Moriguchi
Yuko menyelesaikan kisah balas dendamnya. Ada banyak pelajaran tentang
memaafkan dan sifat asli dari kejahatan itu sendiri.
Diceritakan dalam beberapa sudut
pandang, membuat kejadian ini detail tergambarkan. Masing-masing sudut pandang
menceritakan tentang kegelapan yang berbeda dalam menghadapi situasi yang sama.
Dibuka dengan sudut pandang
Moriguchi Yuko sebagai wali kelas 1B, seorang single mom, yang anaknya baru
meninggal karena diduga kecelakaan, terpeleset dan tenggelam di kolam sekolah.
Narasinya dibuat seperti Moriguchi-sensei sedang bermonolong. Dia bercerita
tentang dunia remaja, kenakalan remaja, seorang guru yang dulunya anak nakal,
tentang putrinya, tentang ayah dari putrinya. Tentang dia yang menjadi single
mom karena batal menikah setelah tau calon suami dan calon ayah dari anaknya
adalah penderita HIV/AIDS.
Anak tanpa ayah memang akan mendapat pandangan miring, tetapi di dalam masyarakat,
anak tanpa ayah masih jauh lebih diterima dibanding anak yang memiliki ayah
penderita HIV. (Moriguchi Yuko, halaman 25)
Tapi Moriguchi masih punya Manami,
anak perempuannya yang berusia 4 tahun dan sehat. Setidaknya sebelum Manami
ditemukan meninggal dunia. Di TKP ditemukan pochette Watausa-chan yang sudah
dimodifikasi menjadi alat kejut. Moriguchi tau A dan penemuannya. Tapi Manami
meninggal karena tenggelam, dilempar ke kolam oleh B.
Saya ingin membunuh A dengan menyetrumnya. Juga ingin menenggelamkan B.
Akan tetapi, meski saya melakukan itu, Manami tidak akan kembali. Mereka berdua
pun juga tidak akan bisa bertobat dari dosanya. Saya ingin mereka tahu berat
dan pentingnya sebuah nyawa.
Sampai sini tahu arah balas dendam
nya Moriguchi-sensei? Yap, dia masukan darah Sakuranomiya Masayoshi, ayahnya
Manami, calon suami Moriguchi-sensei, dan seorang ODHA ke susu yang diminum dua
orang tersangka. Murid A, dan Murid B.
Pengakuan demi pengakuan terbuka dari setiap sudut pandang yang
disajikan.
Ada lima bab, dari lima sudut
pandang:
Pengakuan Moriguchi Yuko di bab 1,
sebuah pembuka yang menegangkan.
Pengakuan Kitahara Mizuki ketua
kelas, tentang kejadian di awal caturwulan dengan wali kelas baru, tentang
perisakan yang terjadi pada Shuya yang tetap berangkat sekolah, tentang
heroiknya Shuya melawan perisakan yang membuahkan cinta segitiga yang ruwet
antara Mizuki, Shuya dan Naoki.
Pengakuan Shimomura Kiyomi kakak
kedua Naoki (si B) yang menceritakan buku harian ibunya, tentang detail
perubahan sikap Naoki yang menurutnya anak baik-baik menjadi gila kebersihan
dan suka mengurung diri di kamar alias hikikomori.
Pengakuan Shimomura Naoki, tentang
anak baik dan haus validasi ingin disayang ibunya. Rada mother complex memang,
betapa Naoki rela mengurung diri karena takut menulari ibu dan keluarganya,
karena yang dia tahu dia meminum susu bercampur darah bervirus HIV.
Pengakuan Watanabe Shuya, another
mother complex, dia yang hanya mendengar tentang elektro dan termodinamika
sejak SD, tentang kebanggaannya pada sang ibu yang merupakan seorang ilmuwan,
peneliti, yang terjebak hidup bersama ayah hanya pemilik toko elektronik kecil
sampai akhirnya mereka bercerai.
Satu kata yang terus berulang di setiap sudut pandang adalah SUSU.
Memang peran penting di cerita ini
adalah susu. Moriguchi yang mencampur susu dengan darah penderita HIV, tentang
para pelaku yang akhirnya trauma pada susu. Tapi sebenarnya susu yang
digambarkan sebagai garis besar disini bukan hanya susu sebagai susu. Susu
menggambarkan ikatan pertama antara ibu dengan anaknya, bisa jadi tentang bonding ibu anak yang menghasilkan pola
asuh berbeda tentu saja akan menghasilkan kepribadian yang berbeda untuk
masing-masing anak.
Tentang Manami, kita tau betapa
seorang ibu akan melakukan apapun untuk anaknya. Moriguchi Yuko sudah siap
membuang nuraninya, memilih balas dendam daripada menyelesaikan secara hukum. Karena
hukum itu tidak akan menyentuh mereka yang berada di kategori masih dibawah
umur. Bahkan Moriguchi seolah bergerak balas dendam tanpa beban apapun.
Tentang Naoki, ibunya selalu
melindungi, menjaganya seperti sebuah benda rapuh. Seolah dia tidak bisa tumbuh
dengan baik tanpa perlindungan kata-kata pujian dari ibunya. Naoki juga begitu
sayangnya ke sang ibu. Bahkan dia tidak berani menceritakan kasus Manami ke
ibunya, juga tentang susu yang di minumnya di hari terakhir kelas Moriguchi
Yuko. Naoki takut mengecewakan ibunya, dia takut menulari ibunya, dia takut
tidak jadi anak baik lagi. Lalu apa yang dilakukan ibu Naoki? Menjadi Martir di
bab 2.
Dia menggunakan kata ‘baik’ untuk menyamarkan tiadanya hal yang layak
dipuji di dalam diriku. Kalau memang begitu, lebih baik aku tidak dipuji
sekalian. Aku memang tidak suka menjadi peringkat terakhir, tapi bukan berarti
aku tidak akan menerima kenyataan bahwa aku tidak bisa menjadi nomor satu.
(Shimomura Naoki, halaman 177)
Tentang Shuya, dia kehilangan kasih
sayang ibunya terlalu cepat. Ibunya seorang ilmuwan hebat bidang elektronika. Tapi
menikah dan menjadi biasa-biasa saja, kemudian memaksakan mimpinya pada Shuya
pasca perceraian. Tentu saja Shuya yang masih berjiwa anak haus kasih sayang
menganggap pemaksaan itu sebagai tanggung jawab seorang anak pada ibunya. Nah,
ketika ekspektasi kasih sayang ibunya itu ternyata hanya ilusi. Bahwa ibunya
hidup baik-baik saja dengan tetap menjadi ilmuwan, menikah lagi dengan sesama
ilmuwan, tetap hadir konferensi ilmiah meski sedang hamil. Meledaklah semua busa-busa
Shuya. Kasian si, tapi ya begitulah.
Inilah aku. Mengalirkan air ke dalam kebahagiaan yang cuma tersisa
sedikit, menjadikannya busa-busa kecil agar penuh. Meski tahu itu cuma
imajinasi yang penuh lubang, itu lebih baik daripada kosong sama sekali. (Watanabe
Shuya, halaman 233)
Romance tipis yang sangat manis
Oke, ini sisipan special tribute
untuk Sakuranomiya Masayoshi yang kata Moriguchi-sensei patut diceritakan
sebagai orang suci. Sayangnya untuk Moriguchi sangat murni, seolah-olah bisa
membuat pembaca tersenyum salting dan memerah wajahnya.
Aku menyesal tidak bisa membuatmu bahagia. Karena itu, untuk menebusnya,
paling tidak aku bisa menghentikanmu jadi penjahat. Mungkin kau tidak bisa
memaafkanku. Tapi kebencian tidak bisa dibalas dengan kebencian. Hatimu tidak
akan puas dengan itu. Dibanding dengan itu, percayalah bahwa mereka bisa
memperbaiki hidupnya. Tolong percaya itu. Pasti itu juga bisa membuatmu merasa
utuh kembali. (Sakuranomiya Masayoshi, halaman 293)
Okee sangat sweet. Tapi untuk ending, kita perlu tepuk tangan untuk aksi
Moriguchi-sensei dan memaafkannya. Maaf ya, Sakuranomiya-sensei, kami bersama
Moriguchi-sensei.
Ending yang tak terduga sama sekali
Ada aftertaste unik setelah menyelesaikan novel ini. Semacam hampa,
tapi puas. Ternyata Minato Kanae memang luar biasa, master iyamisu. Tokoh-tokoh
dalam ceritanya melakukan sesuatu yang sebenarnya disturbing dan melenceng dari
norma pada umumnya. Tapi sebagai pembaca juga tidak bisa seratus persen
membenci apa yang dilakukan para tokoh. Jadi cerita ini secara moral ada di
perbatasan antara hitam dan putih, hadir sebagai abu-abu yang tidak bisa
condong ke sisi terlalu hitam atau terlalu putih.
Seru banget astaga, pengin baca
karya Minato Kanae-sensei lagi. Ada rekomendasi?
Kau menanam bom untuk membalas dendam kepada ibumu. Begitu, bukan? Jadi,
kau membalas dendam dengan cara membunuh banyak orang yang tidak ada kaitannya
denganmu?... Jika di dunia tempatmu tinggal itu cuma ada kau dan Mama yang kau
cintai, bunuhlah Mama. (Moriguchi Yuko, halaman 300)
Duuuar!

Tidak ada komentar