Multatuli: Max Havelaar (2014)

Bacaan klasik yang tetap relevan, tentang Indonesia yang rasanya tetap sama saja


 Judul                : Max Havelaar

Judul Asli         : Max Havelaar: Or the Coffee Auction of the Dutch Trading Company (1868)

Penulis             : Multatuli

Penerjemah    : Ingrid Dwijani Nimpoeno

Penerbit          : Penerbit Qanita PT Mizan Pustaka, 2014

Cetakan ke      : XXII, Februari 2022

Jml halaman   : 480

Blurb

Max Havelaar, ditulis oleh Eduard Douwes Dekker, mantan Asisten Lebak, Banten, pada abad ke-19. Douwes Dekker terusik nuraninya melihat penerapan sistem tanam paksa oleh pemerintah Belanda yang menindas bumiputra. Dengan nama pena Multatuli, yang berarti aku menderita, dia mengisahkan kekejaman sistem tanam paksa yang menyebabkan ribuan pribumi kelaparan, miskin, dan menderita. Mereka diperas oleh kolonial Belanda dan pejabat pribumi yang korup yang sibuk memperkaya diri. Hasilnya, Belanda menerapkan Politik Etis dengan mendidik kaum pribumi elite sebagai usaha “membayar” utang mereka kepada pribumi.

Tragis, lucu, dan humanis, Max Havelaar, salah satu karya klasik yang mendunia. Kemunculannya menggemparkan dan mengusik nurani. Buku ini diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan diadaptasi dalam film dan drama, gaung kisah Max Havelaar masih menyentuh pembaca sejak terbit tahun 1860 hingga kini.

***

Jadilah ini edisi menjawab rasa penasaran akan sejarah Indonesia dan tentang sebuah judul yang terus berulang muncul di buku pelajaran sejarah sejak SD (mungkin?), SMP, sampai SMA. Yaps, MAX HAVELAAR.

Ahkirnya ada rejeki, kesempatan dan waktu luang untuk meminang novel ini, lewat jalur preloved seperti biasa. SETELAH 165 TAHUN. Ternyata apa yang tertulis masih cukup relevan, dan kalau katanya sejarah ditulis oleh pemenang, ini bahkan seperti catatan harian seseorang yang hidup dan mengalami pada zaman itu sekitaran tahun 1834-1869 di Lebak, Banten.

Mungkin narasi bahwa penjajah kejam Belanda mempekerjakan masyarakat pribumi untuk tanam paksa sudah biasa terdengar. Namun bagaimana dengan kezaliman pejabat pribumi yang justru memulai penderitaan bagi masyarakat pribumi itu sendiri. Pernah dengar? Atau ini pertama kalinya dengar?

Jika orang Eropa itu pergi berkuda diikuti oleh beberapa pejabat, yaitu sebanyak yang diperlukan untuk menyusun laporan perjalanan inspeksinya, bupati diikuti oleh ratusan abdi dalem, dan di mata penduduk hal ini tidak bisa dipisahkan dari kedudukannya yang tinggi. Halaman 87

Gaya hidup mewah para pejabat pribumi itu seperti sebuah keharusan. Apalagi karena klaim dari keturunan bangsawan, ningrat, keturunan raja. Mereka hidup mewah karena mereka adalah ningrat. Pelaku penindasan pertama justru dari kalangan pejabat pribumi. Sayangnya, masyarakat biasa tak berani menolak penindasan yang tak mereka sadari tersebut. Bagaimana dengan Belanda yang datang dan ikut mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia?

Mereka ingin mendapat keuntungan dari kesuburan tanah itu, memerintahkan orang pribumi untuk menyisihkan sebagian waktu dan tenaga mereka untuk menggarap tanaman-tanaman lain yang bisa menghasilkan keuntungan lebih tinggi di pasar-pasar Eropa. Halaman 89.

Itu kalimat aslinya, bahwa dari Belanda ingin menyisihkan sebagian. Tapi kenapa jadi seluruhnya dan tanpa bayaran alias tanam paksa? Kembali lagi pada mode raja jawa.

Orang Jawa mematuhi pemimpin mereka; untuk mengambil hati para pemimpin itu, mereka perlu diberi sebagian dari keuntungan. Dengan demikian, kesuksesan bisa diraih. Halaman 89.

Penderitaan dan kesengsaraan bermula. Bayarannya diambil pejabat pribumi, semakin besar menghasilkan akan semakin besar pula bonus yang diterima para pejabat dari pihak pemerintah Belanda. Muncullah si Londo Ireng iki, yaitu para bupati dan pejabat pribumi yang bisa lebih tega memeras rakyat sampai kering.

 

Havelaar

Di antara siklus korupsi, kolusi, nepotisme Jawa, hadirlah Max Havelaar sang asisten residen Banten Kidul (sekarang Lebak) yang baru. Kemunculan ini seperti sebuah anomali karena Havelaar terkenal selalu membela orang lemah dan sangat mencintai keadilan. Tapi di mata orang Belanda sendiri, mereka memandang Havelaar sebagai orang tolol.

Rupanya Max Havelaar ini altruistik sejati, dia rela berkorban demi orang lain dan keadilan meskipun dirinya sendiri pun harus kekurangan. Untung saja isterinya mendukung dengan begitu sabar. Istri Havelaar, Everdine Huberts van Wynbergen atau Tine atau biasa dipanggil Madam Havelaar tetap berada di setiap perjuangan Havelaar.

 

Max Havelaar di 2026, masih releven kok…

Kisah ini masih bisa terus relevan bahkan setelah lebih dari seabad lewat. Tentang gengsi dan hedonisme hidup mereka para pejabat dan kalangan atas. Tentang bonus dan keuntungan yang diberikan pada pemimpin supaya melancarkan sebuah usaha. Tentang penindasan pertama yang dilakukan oleh pejabat pribumi demi keuntungan dan kemewahannya sendiri.

Buku ini seperti sejarah asal muasal KKN di Indonesia dan kebobrokan yang sampai sekarang masih ada dalam berbagai bentuk. Seperti sejarah praktek tiup meniup anggaran supaya menggembung dan bisa dinikmati secuil oleh pembuatnya.

Aku bisa mengutip banyak contoh laporan yang menilai sangat tinggi kondisi sejahtera sebuah keresidenan, terutama pada saat yang sama juga memaparkan kebohongan, terutama jika dilengkapi dengan angka-angka. Halaman 301.

Ketika Havelaar muncul dengan kegelisahan bahwa penderitaan dan kemiskinan masyarakatnya tidak tersampaikan ke pemerintah Belanda, ternyata penyebabnya adalah laporan-laporan pejabat yang tidak pernah menuliskan fakta di lapangan. Apa yang tersampaikan dan yang terlaporkan hanyalah laporan formalitas saja dengan kalimat positif dan angka-angka yang fantastis untuk menggambarkan semua baik-baik saja. Format laporan Asal Bapak Senang.

Kedamaian tetap damai… frasa-frasa semacam itu jelas membuktikan kedamaian yang sangat damai berdasarkan kelunakan pemerintah terhadap siapa pun yang tidak menyampaikan berita tidak menyenangkan atau, seperti yang dikatakan, “jangan mengganggu mereka dengan laporan-laporan menyedihkan!” Halaman 302

Bahkan sampai kisah tentang pencarian Gubernur Jendral yang baru. Havelaar bilang kalau mencari pemimpin harus dilihat dari kemampuan yang diperlukan untuk jabatan barunya, bukan cuma karena dia dekat dengan RAJA. Familiar? Apa kabar 2026?

 

Cerita dari bermacam sudut pandang penulis

Memang ada banyak sudut pandang yang disertakan dalam novel ini. Seperti pembukanya yang dikisahkan oleh Tuan Batavus Droogstoppel; Last & Co, makelar kopi yang tinggal di Lauriergracht No. 37, Amsterdam. Sedangkan kisah Havelaar dituliskan di bagian komposisi Stern yang ditulis oleh Ludwig Stern, makelar kopi dari Hamburg. Nah, Droogstoppel ini yang mengisi narasi sampingan.

Narasi-narasi panjang di luar cerita tentang Havelaar cukup menyita energi. Bahkan pemilik sebelumnya mungkin belum sempat menyelesaikan satu buku dan menyerah hingga akhirnya di-prelove-kan. Basa-basi tentang banyak hal memang memakan 150 halaman sebelum cerita menuju puncak huru-hara luar biasa yang akan dihadapi Havelaar dalam menyikapi penindasan dan kesengsaraan rakyat.

Narasi-narasi pendamping ini memang cukup berat. Tapi kalau dinikmati perlahan ternyata penuh pengetahuan tentang cerita di Eropa sana saat kolonialisme berjalan. Selain itu, narasi sampingan ini cukup detail, sampai membahas soal bahasa melayu/ Timur dibandingkan bahasa Barat.

Karena kesederhanaan bahasa-bahasa Timur bisa memberikkan tekanan pada banyak ungkapan, tekanan yang akan hilang dalam formalitas yang lebih tinggi bahasa-bahasa Barat. Halaman 153.

 

Efek luar biasa Max Havelaar pada zamannya

Multatuli menulis buku ini memang seperti catatan harian, tidak ada basa-basi, tidak disembunyikan. Tertulis apa adanya dan memang dia sendiri yang mengalaminya. Mungkin memang itulah tujuan penulisan bukunya, agar dunia melihat dan mengetahui apa yang terjadi di belahan dunia lain yang menjadi korban kolonialisme secara nyata dari sudut pandang sebangsanya. Penyelewengan aturan, pemerasan, penindasan, keputus asaan dan kesengsaraan pribumi yang tertuang dalam catatan Max Havelaar telah membuka mata setidaknya sebagian dari masyarakat Belanda saat itu. Efeknya, Belanda menjalankan politik etis, dengan niatan sebagai balas budi atas pengorbanan dan kesengsaraan pribumi di bawah kolonialisme Belanda.

Masih ingat pelajaran sejarah tentang Politik Etis? Yap, kebijakan resmi dari pemerintah kolonial Belanda untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pribumi sebagai tanggung jawab moral atas eksploitasi di masa lalu. Jaman sekolah kita hafalin pake trias van deventer kan, yang isinya 3 hal yaitu:

  1. Irigasi, pembangunan infrastruktur pengairan untuk peningkatan produksi pertanian.
  2. Edukasi, pendidikan bagi pribumi yang nantinya akan melahirkan golongan intelektual penggerak nasionalisme.
  3. Transmigrasi, pemindahan penduduk dari Jawa ke Sumatera sebagai tenaga kerja.

Part paling nyesek adalah cerita Saidjah dan Adinda, bagian tiga puluh dua garis di lesung Adinda. Ada apa dengan tiga puluh dua garis itu? Baca Max Havelaar…

 




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.